Kamis, 13 Oktober 2016. Karena hari ini hari kamis, mungkin bolehlah setiap hari kamis aku ambil tema ‘Throwback Thursday’.
Tahun 2007 adalah salah satu tahun yang spesial di bagian perjalanan hidupku. Sembilan tahun lalu, aku datang ke Kota Malang sebagai siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Cukup unik sebenarnya bagaimana aku bisa menjejakkan kakiku di tanah “Ongis Nade”.
Waktu itu aku telah selesai menempuh Ujian Nasional SMP. Kegiatan di sekolah cukup santai, hingga guru Bimbingan Konselingku memberikan presentasi promosi mengenai salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Malang. Kebetulan putri dari guruku alumni SMK itu.
SMK itu adalah SMK Telkom Sandhy Putra Malang. Yang katanya kalau nanti waktu lulusan masuk 10 besar nilai tertinggi seangkatan, maka langsung dapat kontrak kerja dengan PT Telkom. Aku sih waktu itu belum kepikiran soal itu ya, pokok dengerin presentasinya, trus bawa pulang brosurnya.
Setelah pengumuman kelulusan, mulailah misi mendaftar ke SMA. Waktu itu target utama adalah masuk ke salah satu SMA favorit di Kabupaten Jember, yaitu SMA Negeri 1 Jember. SMK Telkomnya belum diperhatikan. Kenapa? Karena waktu itu mindsetku tentang SMK/STM kurang bagus. Bayanganku siswa/siswinya urakan, suka berkelahi. Pasalnya salah satu STM di daerahku seperti itu. Mohon maaf ya, sekarang mindset itu udah hilang kok, hehehe.
Selesai mendaftar dan tes di SMAN 1 Jember, kebetulan kakak sepupuku hendak pergi ke Kota Malang untuk mendaftarkan dirinya ke KOWAD (Korps Wanita Angkatan Darat). Sebelum pergi, ia menanyakanku, apa perlu didaftarkan ke SMK Telkom Malang? “Bolehlah” jawabku.
Sebelum pengumuman SMA di Kabupaten Jember, dimulailah proses seleksi di SMK Telkom. Saat itu aku kebagian waktu tes kemampuan dasar (tes tulis) gelombang kedua. Kalau tidak salah dimulai pukul 12.00. Namun, menjelang ujian dimulai, aku merasa kurang enak badan, perut mulas dan badan juga sedikit meriang. Namun oleh ayahku, perutku diolesi dengan minyak kayu putih, lantas aku diantar ke SMK Telkom untuk mengikuti ujian.
Tanpa diduga, ternyata aku lolos tes kemampuan dasar. Heran juga mengapa bisa lolos, padahal seingatku, aku mengerjakannya kurang konsentrasi. Selanjutnya dimulailah tes tahap kedua, yaitu tes kesehatan dan psikotes.
Wih, kok mau masuk SMK aja ada tes ginian ya? Tes yang dijalani waktu itu adalah seperti psikotes, tes buta warna, tes ketangkasan, dan serangkaian tes yang bersifat jasmani atau keolahragaan.
Hasil ujian tahap kedua SMK Telkom belum diumumkan, namun hasil ujian SMA di Kabupaten Jember sudah diumumkan melalui surat kabar. Setelah dicari-cari, ternyata namaku tercantum di pengumuman tersebut dan syukur masuk ke pilihan pertama (SMAN 1).
Saat itu aku belum memutuskan untuk melakukan pendaftaran ulang, karena menunggu hasil ujian SMK Telkom. Nggak tahu kenapa waktu itu rasanya jadi antusias untuk memantau hasil tes di Malang. Padahal masuk ke situ bukanlah tujuan utamaku.
Akhirnya hasil ujian diumumkan melalui papan pengumuman yang diletakkan di halaman sekolah. Setelah dicari-cari, ternyata namaku tercantum. Syukurlah.
Saat itu aku dimasukkan ke jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak). Jujur aku gak paham jurusan-jurusan yang ada di SMK Telkom. Saat itu nggak peduli masuk jurusan mana, yang penting sudah berhasil masuk.
Selanjutnya orang tuaku menyerahkan keputusan kepadaku. Ingin masuk sekolah yang mana? Setelah dipertimbangkan, akhirnya aku memilih SMK Telkom. Sebenernya faktor utamanya simple, karena ingin sekolah di luar kota :D
Ya, itulah kisah pendek bagaimana awal mula perjalananku ke tanah AREMA. Di kota ini aku pertama kalinya mengenal apa itu internet, apa itu flashdrive, apa itu Google, apa itu Rekayasa Perangkat Lunak, membeli laptop pertamaku.
Di kota ini aku mulai mengenal berbagai jenis musik, mengenal lebih jauh tentang Guns N Roses, menjadi fans Dream Theater, mengenal Metallica, menjadi fans AC/DC, mengenal musik Blues.
Di kota ini aku pertama kali mengenal Parkour dan bergabung dengan keluarga Parkour Malang.
Di kota ini pula aku mulai berteman dengan banyak kalangan, usia, latar belakang, budaya yang sangat aku syukuri hingga saat ini.
Di kota ini karakterku mulai terbentuk, setapak demi setapak pengalaman ditempuh, hingga ladang rejeki pun aku mulai temukan dari kota ini.
Ya, siapa tahu? Mungkin masih panjang perjalananku di Kota Malang, atau adakah kota lain yang dalam waktu dekat ini menjadi salah satu batu loncatan dalam kehidupanku? Aku hanya bisa berdoa, berharap, dan melakukan yang terbaik.