Sabtu, 8 Oktober 2016. Hari ini adalah hari utama dalam rangkaian perjalananku. Hari ini dimulai event Hackathon Kartika Eka Paksi Cipta Yudha 2016. Event ini diselenggarakan oleh TNI AD dalam rangkaian HUT TNI Ke-71. Event ini sekaligus digunakan TNI untuk menemukan ide-ide kreatif dari para praktisi teknologi & informasi yang diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut guna meningkatkan kemampuan TNI AD khususnya dalam bidang teknologi & informasi.

Event ini diselenggarakan selama 2 hari. Bertempat di Pusat Pendidikan Zeni, di Sempur, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan utama event ini adalah, para praktisi TI ditantang untuk merealisasikan idenya hanya dalam waktu 24 jam. Jadi untuk mengikuti event semacam ini, memang dibutuhkan energi, strategi, pengalaman yang banyak serta kemampuan dalam manajemen tugas dan anggota.

Jadi tidak aneh kalau mayoritas peserta hackathon jarang yang beranjak dari tempat duduk, lalu menahan kantuk demi menyelesaikan karyanya, atau paling tidak sebuah prototipe yang nantinya dapat didemokan didepan juri dan mendapat penilaian yang memuaskan.

Jadi ngapain ikutan hackathon?

Saya belum pernah tanya satu per satu sih, cuman menurut pengamatanku, kemungkinannya banyak.

Mungkin ada yang tergiur hadiahnya. Sekedar info, total hadiah untuk Hackathon TNI AD kali ini totalnya 50 juta rupiah. Juara 1 dapat 25 juta, Juara 2 dapat 15 juta, sedang Juara 3 dapat 10 juta. Bahkan ada hackathon di Indonesia yang juara 1 nya mendapatkan lebih kurang 75 juta dalam bentuk uang dan barang.

Mungkin ada juga yang memang senang ikutan event semacam ini untuk mengasah kemampuannya dan untuk kebanggaan tersendiri.

Ada juga yang hanya sekedar mencicipi rasanya ikutan hackathon. Menambah pengalaman. Bagaimana rasanya kerja dikelilingi oleh orang-orang yang juga “memaksakan” level produktivitasnya.

Ada juga yang sekedar ingin tahu teknologi-teknologi apa yang terbaru, tren, dan melihat para talenta-talenta di bidang teknologi & informasi.

Hanya Saja..

Saya masih dua kali mengikuti hackathon, yang pertama di Malang, April 2016. Jadi opini ini mungkin kurang kuat.

Menurut pengamatanku, ada beberapa peserta hackathon yang karyanya sudah jadi, atau mungkin progressnya sudah lebih dari 50℅ sebelum waktu mundur hackathon 24 jam dimulai.

Jadi menurut saya esensi dari hackathonnya kurang dapet, malah kaya pameran karya jadinya. Padahal yang seru itu adalah prosesnya, gimana usaha masing-masing peserta supaya dapat membuat karya yang masuk akal untuk dikerjakan dalam 24 jam, tetapi mampu menarik perhatian juri dan peserta hackathon lainnya.

Lalu dari sisi penyelenggara, untuk pengalaman saya ikutan hackathon Malang, mereka bilang bahwa akan mendukung dan membantu mengembangkan karya-karya yang potensial untuk Kota Malang, atau kalau saya tidak salah informasi, karya-karya yang berhasil menjadi juara. Tetapi, hingga saat ini, saya belum dengar/tahu tindak lanjutnya. Hmm..

Tapi bagi saya pribadi, banyak ilmu dan informasi yang bisa didapat ketika mengikuti hackathon yang dapat menunjang profesi yang saya geluti saat ini.

Itu!