3 Tahun yang lalu, 22 Agustus 2015. Saat itu aku dihubungi oleh temanku, Bagus Dakar. Dia teman satu komunitas Colony of Blues, komunitas penikmat musik Blues Kota Malang dan dikenal dengan permainan slide guitar.
Saat itu dia mengabarkan bahwa ada gerakan musisi Kota Malang untuk ikut menolak revitalisasi Hutan Kota Malabar oleh salah satu perusahaan multinasional sebagai bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) kepada Kota Malang. Aksi ini lantas tergabung dalam “Aliansi Masyarakat Peduli Hutan Kota Malabar”.
Sekilas tentang revitalisasi Hutan Kota Malabar, pihak perusahaan berencana mempercantik Hutan Kota Malabar dan membangun Amphitheatre di pusat hutan. Rencana ini ditentang oleh Aliansi Masyarakat, karena dianggap akan merusak ekosistem Hutan Kota Malabar, terutama populasi Burung Gelatik Jawa yang dikhawatirkan akan bermigrasi karena kebisingan Hutan Kota. Dengan adanya revitalisasi ini, maka bukan Hutan Kota Malabar lagi namanya, tapi Taman Malabar.
Inilah yang terjadi sobat.. pic.twitter.com/a3GjzjXIRt
— SaveHutanKotaMalabar (@SaveHKMalabar) September 8, 2015
Dari situ muncul berbagai tanggapan, adu argumen. Pihak yang pro revitalisasi menganggap bahwa revitalisasi Hutan Kota penting, karena menurut mereka Hutan Kota kerap dijadikan sebagai tempat mesum. Sehingga perlu dilakukan penerangan dan pemolesan, agar masyarakat tidak berani berbuat hal yang diluar norma. Sampai-sampai ada demo pro revitalisasi dan dibalas dengan meme seperti ini:
Mimin nggak habis pikir sama demo tandingan kmaren. Per kepalanya dihargai berapa tuuh? *eh pic.twitter.com/SMlGbHydGK
— SaveHutanKotaMalabar (@SaveHKMalabar) September 5, 2015
Sontak banyak sekali dukungan musisi baik musisi Kota Malang, maupun musisi Nasional yang mendukung gerakan penolakan ini.
Aku bukan seorang aktivis, tetapi mendengar ajakan ini, aku tergerak untuk ikut berkontribusi. Malam itu juga aku mulai menulis sajak, mengolah lagu. Judul lagunya “Siapa Aku?”. Lagu ini bercerita tentang curahan hati sebuah pohon mewakili seluruh pohon di muka bumi ini yang dilupakan oleh manusia. Pentingnya kehadiran dan fungsi mereka untuk kehidupan manusia. Namun, manusia lupa, serakah, tidak tahu terima kasih.
Jadilah lirik lengkap seperti foto diatas. Foto tersebut kukirimkan ke Bagus keesokan harinya, tidak lupa mengirimkan rekaman demo dari gitar akustik pinjeman milik kantor *hehe* supaya dia bisa mengimajinasikan bagaimana feel lagu ini.
Malam itu juga dia kasi kabar kalau lagunya OK dan siap direkam. Kebetulan dia punya seperangkat komputer lengkap dengan instrumen untuk rekaman home recording. Langsung dijadwalkan keesokan harinya untuk rekaman di tempatnya.
Singkat cerita, lagu ini kami garap hanya dalam waktu 3 hari, kami cukup kompak dalam mengisi setiap instrumen dan saling memberi masukan garapan masing-masing. Aransemen drum dan bass digarap oleh Bagus, plus bumbu slide guitarnya. Sedang aku kebagian sesi rhythm. Untuk vokalnya, kami berdua cukup intens untuk membagi part dan menentukan gimana baiknya, hehehe. Puji syukur proses 3 hari rekaman lancar jaya aman makmur adil sentosa.
Lagu sudah beres, sekarang kami bingung, lagu ini dipublikasikan memakai nama pengusung apa?
Akhirnya terpilihlah nama “Jalur Timur”. Latar belakangnya adalah kota asal kami berdua. Bagus berasal dari Probolinggo, sedang aku berasal dari Jember. Kedua Kabupaten itu secara geografis terletak di sebelah timur Kota Malang. Probolinggo dan Jember pun dapat ditempuh sejalur. Maka “Jalur Timur” kami rasa dapat mewakili pengusung lagu ini.
27 Agustus 2015. Pagi itu sebelum berangkat ke kantorku mampir ke Taman Kunang-Kunang, salah satu taman yang juga diperbaharui berkat CSR salah satu perusahaan nasional yang kebetulan bermarkas di Kabupaten Malang. Tujuanku mengambil klip video taman untuk nantinya kujadikan sebagai background untuk lyric video “Siapa Aku?”. Sepulang kantor, langsung kukreasikan klip-klip tadi untuk selanjutnya dipublikasikan.
Sayang, saat konser “Suar Malabar”, konser yang telah diagendakan dimana penampilan masing-masing musisi direkam secara langsung, saya berhalangan hadir. Maka lagu Siapa Aku tidak masuk daftar album kompilasi konser Suar Malabar.
Tapi tidak mengapa. Aku sudah senang dapat berkontribusi untuk pergerakan kurasa cukup monumental ini. Walaupun tidak terdokumentasi secara resmi, tetapi niatan serta rasa bangga sudah ada. Terlebih ini adalah sebuah karya! Karya itu ibarat anak hasil persetubuhanmu dengan imajinasimu.
Singkat cerita, puji syukur perjuangan Aliansi Masyarakat Peduli Hutan Kota Malabar dan pergerakan musisi Kota Malang membuahkan hasil. Pihak perusahaan menghentikan pembangunan Amphitheatre. Mereka hanya memberikan sentuhan pada Hutan Kota Malabar.
https://malangvoice.com/otsuka-minta-maaf-kepada-warga-malang/
https://malangvoice.com/pengerjaan-proyek-revitalisasi-malabar-berhenti/
Namun ternyata perjuangan tidak berhenti sampai disini, karena Aliansi menuntut tanggung jawab perbaikan dari proses revitalisasi yang sebelumnya sudah berjalan.
Ok, untuk cerita lebih lanjut tentang polemik revitalisasi Hutan Kota Malabar, dapat kalian cari sendiri. Sekarang, mari nikmati lagu “Siapa Aku”