Selasa, 16 Desember 2025. Saat itu sekitar pukul 12.45-an, aku baru selesai beresin aula kantor yang baru saja dipakai untuk suatu kegiatan. Puji syukur siang ini ada rejeki makan siang dari kantor, cuman entah kenapa sewaktu di aula aku merasa agak loyo, akhirya aku mutusin buat istirahat dulu di ruangan dan niatnya mau merem bentar sebelum ambil jatah makan siang. Baru aja naruh hp, tetiba ada panggilan masuk dari teman, Ocha namanya. Dia nanyain apa aku lagi sibuk? Seperti biasa responku sambil bercanda. Dia nerusin kalo minta tolong dianter ke rumah sakit. Aku yang tadinya rebahan, langsung beranjak dan mengkhawatirkan ada berita buruk yang sebenarnya juga pernah aku bayangkan. Langsung aja kubalas bisa!
Dia yang sepertinya dalam situasi yang kalut hanya pesen butuh cepat sampai. Fyi: jarak dari kantor ke rumah sakit sekitar 30 Km yang kemungkinan paling cepet sekitar 40 menit-an. Dia nungguin di tempat parkir motor, dia pikir pakai motor bakal lebih cepet, cuman cuaca hari itu kurang bagus dan besar kemungkinan akan hujan, jadi aku sarankan pakai mobil saja. Aku langsung minta tolong teman untuk pinjam mobilnya kubawa ke rumah sakit. Udah siap mau berangkat, masih aja ada drama kecil. Aku yang ambil mobil di parkiran mobil, niat jemput Ocha yang kukira nunggu di parkiran motor. Sesampainya di sana, ternyata dia geser ke parkiran mobil. Makan waktu lagi..
Selama perjalanan aku cuman fokus melaju dan berdoa. Aku panjatkan doa Mahamrityunjaya Mantra, ini salah satu doa memohon perlindungan. Doa ini sebenarnya sering aku panjatkan saat berkendara atau saat kondisi panik. Entah kenapa doa ini membuatku sedikit lebih tenang dan menerima lebih baik jika apa yang kudapat tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Ya.. meskipun kalo orang memperhatikan mungkin aneh soalnya mulutku komat kamit hehehe.
Perjalanan baru sepertiganya, Ocha dapat panggilan telepon masuk, tidak banyak yang dia ucapkan lalu menutup telepon. Suasana menjadi hening sejenak kemudian aku memalingkan wajahku ke dia dan bertanya "Sudah ga ada?" dan dia mengangguk. Ya, papa Ocha telah meninggal dunia.
Seketika doa yang kupanjatkan berubah menjadi doa berduka. Sambil memberi support, aku juga memberi isyarat kepada Ocha untuk tidak ragu meluapkan kesedihannya. Aku jadi teringat 9 tahun lalu, saat kakek dari papaku meninggal dunia di Nusa Lembongan dan papa di Jember. Aku yang sedang tinggal di Malang langsung pulang ke Jember pukul 12 malam, sesampainya di Jember sekitar subuh, kami langsung berangkat ke Bali naik motor. Karena malamnya baru sampai, kami tidak mungkin menyeberang. Baru besok paginya kami bisa menyeberang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan papa waktu itu.
Akhirnya kami tiba di rumah sakit. Singkat cerita, Ocha yang didampingi kerabatnya mengurus berkas-berkas kematian papanya sekaligus sebagai pengambil keputusan tentang prosesi selanjutnya karena dialah anak sulung. Sementara kedua adiknya sedang di luar kota dan masih dalam perjalanan ke Makassar.
Aku hanya mengamati dan berjaga-jaga bila tenagaku dibutuhkan, sementara kerabat dan jemaat gereja membersamai Ocha dan mamanya. Jenazah kemudian masuk ke ruang pemulasaraan. Aku meminta ijin ke Ocha untuk menginformasikan kabar duka ini ke bagian kepegawaian kantor, dan dia mengijinkan. Tapi sial, baterai hpku sisa 2%!. Heran juga kenapa di saat seperti ini powerbank tidak kubawa ke kantor! Udah tahu baterai hp cuman 1800mAh, gampang ngedrop pula, masih aja ga ready powerbank. Untung charger selalu ada di tas. Akhirnya aku pergi ke kantin rumah sakit, dengan modus membeli beberapa botol air mineral untuk nanti kubagikan ke orang-orang sambil minta ijin ibu kantin buat numpang charging hp.
Jenazah sudah selesai dimandikan, sekarang petugas pemulasaraan butuh handuk tebal dan lebar. Ocha yang mau pergi ke minimarket depan rumah sakit, kucegah. Kubilang biar aku aja yang ke sana. Sesampainya di minimarket, ketemulah itu handuk. Saat di kasir, niatku mau bayar pake QRIS. Kasirnya bilang kalo pake nontunai harganya 2 kali lipat dibandingkan pake tunai. Alamak! Sialnya uang tunaiku ga cukup wkwkwk. Akhirnya aku keluar dari minimarket, trus lari-larian cari ATM buat narik duit. Fyi: Cerita ini aku ga pernah cerita ke Ocha karena malu. Aku tahu pasti petugasnya udah nungguin itu wkwkwk. Tau deh kapan tulisan ini ga sengaja dibaca sama dia. Kalo kamu baca ini, mohon mangap yak! :D
Handuk dah aman, aku mode standby lagi. Tapi kurasakan persendian kaki agak lemah, memang sepertinya ada yang kurang beres dengan kesehatanku hari ini, tapi coba kuabaikan. Sambil nunggu proses, aku balik ke parkiran buat ambil barang di tas. Pas mau balik, aku ditelpon Ocha kalo dia mau pergi ke tempat persemayaman untuk mempersiapkan kebutuhan di sana. Saat sampai di ruang pemulasaraan, kulihat sisa sedikit tenaga laki-laki dan sepertinya itu jemaat gereja, serta mamanya Ocha. Selang beberapa saat ada panggilan dari petugas pemulasaraan untuk turut membantu merapikan pakaian jenazah. Ya mau ga mau aku masuk membantu. Btw ini pengalaman pertamaku membantu proses pemulasaraan dan seingatku, seumur hidup aku belum pernah benar-benar sedekat ini dan bahkan menyentuh jenazah.
Oke! Sepertinya aku hanya harus mengikuti arahan petugasnya. Dia bilang tolong dimiringkan supaya bisa masuk jasnya. Saat kupegang jenazahnya, kaget! (tapi dalam hati), soalnya kaku banget. Ternyata jenazah sudah disuntik formalin. Ya udah, dengan pemahamanku, aku coba pake teknik yang menurutku ga membahayakan jenazah. Tapi aku masih bener-bener hati-hati banget, semisal waktu merapikan bagian kerah jas yang mana harus mengangkat kepala. Saat kepala diturunin, aku pastiin kepalanya ga terbentur meja. Aneh sih, tapi ya karena memang baru pertama kali. Anyway, jas sudah terpasang, lalu kulihat sepatunya masih di dalem kardus, aku pindah ke bagian kaki buat masangin kaos kaki dan sepatunya. Sudah selesai, tinggal rapi-rapiin pakaian yang kelipet kurang beraturan.
Setelah benar-benar selesai, jenazah siap dimasukkan ke dalam peti mati. Puji syukur datang tambahan tenaga laki-laki. Kami mengangkat peti itu ke ruang pemulasaraan dan kemudian memindahkan jenazah ke peti. Sempet kerepotan sih waktu mindahin jenazah, soalnya ruangannya terbilang sempit dan butuh setidaknya 4 orang untuk angkat jenazah (supaya seimbang) dan mindahin ke peti. Belum lagi harus ngelangkahin petinya dulu (nyebrang). Aku rasa ada yang salah dengan tekniknya, tapi ya mau gimana, aku juga belum pernah tahu teknik yang benar. Puji syukur jenazah sudah masuk ke ambulance dan aku pun ke parkiran untuk menuju ke tempat persemayaman.
Sesampainya di tempat persemayaman, Ocha meminta tolong untuk mencetak foto papanya untuk dipajang di tempat persemayaman. Puji syukur tempat percetakan dan tempat jual pigura relatif dekat dari lokasi persemayaman. Tapi makin lama aku makin merasa semakin lemah, apalagi sejak pagi belum ada nasi masuk. Kupikir kalau aku paksa pulang ke Maros, sepertinya akan berisiko. Karena ada info Riska, Kak Fitri, Mirna, Devi akan ke tempat persemayaman, aku berpikir menunggu mereka datang sambil istirahat dulu.
Memang benar badanku ada yang kurang beres, saat mereka datang, aku meriang. Aku langsung ke mobil untuk mencoba tidur. Saat mereka hendak pulang, aku masih belum merasa baikan. Akhirnya aku minta Riska untuk tinggal menemani lebih lama untukku istirahat, sementara yang lain pulang. Waktu sudah semakin malam, dan aku merasa sedikit pulih. Jadi kuputuskan untuk pulang pelan-pelan.
Di perjalanan, aku mampir ke tempat makan bubur ayam untuk isi perut, tapi nasfu makanku sudah sangat menurun. Akhirnya kami beli paracetamol dengan harapan bisa menurunkan suhu tubuh. Tidak disangka, obatnya langsung bereaksi. Dalam hati, kenapa ga tadi sore aja keluar beli paracetamol wkwk. Selama perjalanan aku rasakan tubuhku berangsur pulih dan tiba di rumah dengan selamat.
Rasanya senang ikut bantu dengan apa yang kumiliki atau tenaga dan pikiran yang bisa kukontribusikan. Sepertinya aku dipengaruhi oleh apa yang papa biasa lakukan. Setiap ada berita duka, papa selalu aktif berkontribusi walau tentu bukan di garda depan, karena sebagian besar yang meninggal di kampung adalah umat Islam. Tapi papa seringkali sudah duluan tiba dan selalu bawa peralatan lengkap ke pemakaman, mulai dari cangkul, sabit, gergaji, dan perkakas apapun yang menurut dia mungkin diperlukan. Padahal kan udah ada tukang gali kubur yak?! Ngapain masih bawa-bawa perkakas pribadi? Tapi kadang sepulang dari pemakaman dia cerita kalau perkakasnya berguna dan dia senang bisa bantu. Sepertinya semakin berumur, aku semakin paham, Pa.