Aku bukan seorang fan untuk sesi foto prewedding. Entah kenapa, menurutku kureng aja. Buat apa gitu? Mungkin hasilnya cuman ditampilkan di undangan atau dipajang di lokasi acara. Selesai deh. Kalau pertimbangannya sebagai momen, kurasa alasannya juga kurang kuat, karena itu sudah disetting, beda kalau memang dokumentasi prosesi. Papa dulu waktu muda suka fotografi, terlihat dari cukup banyak buku album di rumah dan film foto yang belum dicetak. Ada salah satu album yang memuat dokumentasi pernikahan papa dan mama. Jelas yang foto bukan papa sendiri, tapi dari situ aku melihat bahwa menarik untuk menangkap momen dalam suatu acara secara natural (baca: candid). Pun dengan koleksi foto-foto papa di berbagai kegiatan, rasanya suka aja kalau buka foto album, dan mengenang cerita dibalik momen tau pose yang saat itu tertangkap lensa kamera. Mungkin karena itu aku lebih suka melihat karya dokumenter daripada studio. Ga peduli perangkat yang dipake, aku lebih suka memperhatikan momen, nuansa, dan komposisinya.

Tapi, dengan tingkat kedewasaan yang lebih baik lagi wkwkwk, tentu tidak bijak jika aku memaksakan kehendakku sendiri. Ya udah, kuturutinlah maunya Riska.

Dengan karakterku yang bisa dibilang sloppy perfectionist, tentu otakku ga bisa diem buat bikin sesuatu yang beda. Beda di sini bukan berarti anti mainstream sih, cuman itu adalah hasil dari olahan sumber atau referensi dengan pengalaman atau pengamatan yang aku miliki. Jadinya produk yang bisa aku banggain meskipun hasilnya ga bagus-bagus amat hehehe. Tapi ada cerita atau pengalaman yang mungkin nambah valueku.

Oke! Waktu udah mepet, jadi harus punya solusi yang sederhana dan gampang dieksekusi karena masih musim penghujan dan eksekusinya dilakukan sendirian. Yes! pose sendiri, jepret sendiri, edit sendiri, bisa jadi dinikmati sendiri hahahaha. Jadi yang pertama, cari referensi. Aku mulai dengan cari hashtag #prewedding #preweddingbali #balinesewedding di Instagram. Ntah kenapa pake keyword itu, padahal kan udah jelas kalau lokasi dan kostum ga pake adat Bali! wkwk.

Ketemulah postingan dari akun @munautama. Aku suka foto ini, color palettenya sederhana. Kostumnya juga bagus, menyatu dengan latarnya. Sepertinya ini cocok dengan profilku yang suka nuansa vintage. Jadi aku coba ajuin ini ke Riska. Hanya konsep warna, latar, kostumnya aja. Kalau pose, aku kurang cocok dengan jepretan di foto ini. Tapi aku udah ada bayangan yang bisa kukembangin. Syukurlah Riska menerima, sepertinya dia mikir apapun boleh aja mumpung aku lagi minat hehehe.

View this post on Instagram

A post shared by Muna Utama - Bali Photographer (@munautama)


Sekarang pertanyaannya, lokasi apa yang ada di sekitar Maros yang mirip dengan referensi itu? Butuhnya padang rumput dengan latar vegetasi atau pepohonan yang hijau. Kalau padang rumput hijau, aku pernah lihat foto prewedding teman, Boim namanya, tapi itu di Kab. Barru dan lokasinya menurutku terlalu jauh. Kalau di Malino juga menurutku terlalu jauh, belum lagi surveinya. Jadi harus ada lokasi yang lebih dekat biar bisa survei dan preparasi serta eksekusinya bisa cepat.

Nah, kemudian aku teringat ada yang pernah cerita kalau di Kab. Pangkep ada lapangan golf milik PT Semen Tonasa yang biasanya dikunjungi masyarakat buat rekreasi dan foto-foto. Aku cek lah tempat itu di Google dan media sosial, dan lokasinya cukup meyakinkanku. Terlebih, aku juga teringat kalau ada temanku, Afdhal yang sepertinya di undangan pernikahan onlinenya, dia pakai foto di padang rumput yang sama. Kucarilah itu pesan undangannya, dan ternyata memang benar, lokasi fotonya memang di sana.

Pas akhir pekan, aku ajak Riska buat survei lokasi sambil testing komposisi kamera. Ternyata biaya masuknya cuman lima ribu dong! Pantes aja tempat ini rame. Emang cocok buat healing tipis-tipis. Udah gitu lokasinya juga bersih, artinya tempat ini benar-benar terawat. Kami ke lokasi pagi hari, buat tes golden hour dan ternyata susah dan makan waktu banget kalo self-jepret. Bayangin nih ya, pertama keliling dulu buat cari spot, trus coba atur pose dan titik subjek, trus aku kembali ke kamera buat atur pengaturannya, baru kembali ke titik pose buat jepret. Nah, masalahnya aku cuman punya IR remote shutter jadi punya keterbatasan jarak operasional, jadinya aku ga bisa terlalu jauh dari kamera dan ga bisa manfaatin semua focal length. Belum lagi soal autofocus. remote shutter ini didesain cuman buat shutter doang, ga bisa atur autofocus otomatis. Jadi opsi yang bisa dilakukan adalah saat pengaturan, udah aku kunci fokusnya. Cuman hasilnya kadang dia nge-reset gitu. Kabur deh hasil fotonya. Sepertinya harus pake wireless remote shutter kalo kek gini, soalnya dia udah punya fitur atur fokus dan jarak operasionalnya juga lebih jauh. Tapi gapapa untuk saat itu, kami fokusnya nentuin spot, pose, dan komposisi yang mau dipake pas sesi foto benerannya. Karena per spot makan waktu cukup banyak, ga kerasa udah hampir jam 9 an. Panas banget bos! Ini jadi pertimbanganku selanjutnya, sepertinya ga bisa dilakuin pas pagi. Golden hour emang paling bagus-bagusnya, apalagi buat jenis pemotretan ini. Tapi rasanya ga feasible buat kami yang apa-apa diurus sendiri. Yang ada malah kesel sendiri. Jadi, aku putuskan buat pake sore hari pas hari pemotretan, soalnya golden hour masih bisa dapet, waktu relatif lebih panjang dan semakin lama (berbanding dengan tingkat kelelahan & stres), cuaca juga ga semakin panas. Tantangannya cuman ngejar jendela sinar matahari aja. Pas udah pulang, lihat hasil foto survei, aku makin punya bayangan komposisi gambar, warna, outfit yang pas buat sesi prewedding. Singkatnya, kata kunci dari foto ini adalah earthy, warm, muted green, muted yellow, vintage, film look, raw, natural.

Hari pemotretan tiba. Saat itu hari minggu. Paginya, kami nyempetin ke Car Free Day buat olahraga ringan sambil cari sarapan (baca: jajan). Saat jalan-jalan, nemu tuh ada penjual bunga. Riska ngide apa bunga bisa dijadiin properti. Seperti biasa respon spontanku menolaknya. Tapi ya sudah, kita coba saja hehehe. Sorenya kami berangkat ke lapangan golf. Ternyata di sisi utama rame banget. Kami coba pindah ke sisi lainnya dan ternyata lebih sepi. Jadi kami mutusin buat fokus eksplor di sisi itu aja. Jepretan pertama adalah tentang welcoming. Aku punya ide buat bikin undangan online sendiri dan di bayanganku, foto cover di undangan itu adalah pose kami berdua menyambut tamu/penerima undangan. Jadi, aku pilih pose kami berdua sedang pegangan tangan dan melambai ke arah kamera. Cukup banyak take yang kami ambil soalnya mau bener-bener presisi dan simetris, sementara aku harus bolak-balik lari-larian jepret-reviunya. Di sini aku ngide mau bikin karya video. Udah dicoba beberapa take tapi ga bisa muasin standar minimum, akhirnya nyerah deh daripada makan waktu, mood juga makin turun karena kesel sendiri.

Sesi berakhir pas maghrib. Udah bener-bener mau abis itu cahaya mataharinya. Hasil foto pun sudah banyak noise karena ISO nya agak kupaksa. Total kami ngebungkus 5 spot foto dengan beberapa variasi pose. Pose-pose ini nantinya akan dipilih mana yang paling bagus. Tantangan selanjutnya adalah editing foto. Aku bisa sih edit tipis-tipis, tapi buat backup, aku minta tolong adikku, Made buat bantu edit pake versinya. Nanti akan coba aku bandingin dan refine mana yang paling sesuai dengan ekspektasiku.

Ini aku spill foto raw dan foto hasil editan (bear with me with the image quality. Hemat bandwidth). Spill juga behind the scene self-jepret wkwkwk.

before
before
after
after