Kamis, 20 Oktober 2016. Throwback thursday mengenai pertama kalinya saya tertarik untuk memainkan alat musik.
Tahun 2005. Ya, di tahun itu, saya pertama kalinya tertarik untuk memainkan alat musik. Kira-kira lebih tepatnya, sekitar bulan Juni 2005.
Saat itu aku baru saja naik kelas 2 SMP. SMPku sedang mengadakan pesta perpisahan bagi kakak-kakak kelas yang juga baru lulus Ujian Akhir Nasional. Saya juga turut menghadiri pesta tersebut untuk menyaksikkan pertunjukan yang telah disiapkan oleh panitia. Teman-temanku juga hadir, kami menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang ada.
Waktu itu saya masih belum tertarik untuk memainkan alat musik. Walaupun teman-temanku juga banyak yang bisa memainkan gitar, tapi saya sama sekali tidak punya hasrat untuk belajar. Saat itu bisa dibilang targetku hanya mengejar nilai akademik.
Walaupun sebenarnya mamaku suka mendengarkan musik, dan beliau juga punya beberapa koleksi kaset pita seperti album milik Ratih Purwasih, Doel Sumbang, Yuni Shara, Krisdayanti, dan masih banyak lagi. Namun, saya menikmatinya biasa-biasa saja, tidak kepikiran “ngulik” lagu-lagu itu.
Seperti biasa, saat pesta perpisahan, pastinya band-band siswa juga turut tampil. Hingga tampilah band satu ini.
Saya lupa nama band mereka waktu itu, namun gitarisnya saat itu adalah temanku yang kebetulan berbeda kelas, namun kami cukup sering berinteraksi di kantin sekolah. Septian namanya. Waktu itu mereka membawakan lagu-lagu dari band Radja. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa bermain gitar. Setelah hampir setahun mengenalnya, tapi baru kali itu saya melihat dia bermain gitar, dan mempunyai band. Pikir saya kala itu dia keren sekali.
Hingga..
Saya cukup iri dan memutuskan akan belajar memainkan gitar dan akan membentuk band dengan tujuan utama tampil pada pesta perpisahan tahun depan.
Kegiatan belajar kelas 2 dimulai, begitu pula dengan belajar gitar. Temanku, Rizky yang mengajariku chord-chord gitar dasar. Tapi saat itu saya belum memiliki gitar, akhirnya saya punya inisiatif latihan chord di kelas dengan menggunakan penggaris 30 cm yang dibalut dengan kertas. Kertas itu kemudian saya gambar hingga menyerupai senar dan fretnya. Waktu itu yang penting tahu chord-chord dasar dan formasi jari-jarinya.
Sejak itu, setiap pulang sekolah, saya langsung nongkrong di depan rumah sambil berlatih chord mulai A hingga G, begitu pula dengan Am hingga Gm. Kegiatan itu rutin saya lakukan sekitar satu bulan, hingga saya hafal chord-chord dasar, sampai tidak perlu melihat jari-jari lagi. Ya emang sih, saat itu tidak ada bunyi, hanya hafalan formasi saja. Tapi bagi saya, sudah puas dengan pencapaian itu.
Gitar Pertama
Mungkin karena tahu aktivitasku di siang hari, suatu hari ketika papaku pulang dinas, beliau membonceng suatu kardus yang bentuknya memanjang. Ketika kardus itu diturunkan dan dibuka, ternyata isinya gitar akustik. Wah, senang sekali dicampur perasaan terkejut, ternyata papa mendukung aktivitasku ini. Memang sih, itu gitar kualitasnya biasa saja. Tapi tetap saja, pemberian orang tua itu tiada duanya. Seketika itu, semua chord-chord dicoba dimainkan, terus menerus, kegirangan dapat gitar baru.
Mulailah saya membeli buku-buku chord lagu. Mulai dari band Dewa 19, Sheila On 7, Peterpan, Coklat, lagu-lagu mereka jadi bahan belajarku untuk materi strumming dan feelnya.
Kegiatanku belajar gitar cukup menyebar di sekolah. Suatu malam, ada kakak kelasku yang iseng pengen latihan band di studio yang kebetulan lokasinya dekat rumah. Dia mampir ke rumah bersama teman-temannya, kemudian mengajakku untuk ikut latihan. Ya langsung saja aku ikut mereka. Tapi ternyata setelah sampai di studio, mereka butuh pemain drum, akhirnya ya aku yang bermain drum, padahal aku belum pernah main drum. Saat itu yang dibuat latihan lagu-lagunya peterpan. Gak tahu bagaimana, tapi aku bisa memainkan tempo lagu-lagu itu, sederhana sih, cuman cukup terkejut melihat aku bisa memainkan drum. Itulah pengalaman pertamaku berlatih di studio musik.
PLANKTON BAND
Akhirnya setelah cukup lancar bermain gitar, aku mulai mengajak teman-temanku untuk membentuk band. Teman-temanku itu adalah Eben di Gitar dan Vokal, Michael di Bass, dan Aris di Drum. Sedang aku di Gitar dan Vokal juga. Nama band yang kami bentuk adalah PLANKTON. Filosofi nama itu adalah menurut buku, plankton berada di rantai makanan terbawah di ekosistem laut. Jadi kami mengambil kesimpulan bahwa kalau tidak ada plankton, maka paus pun bisa kelaparan. Artinya plankton itu organisme yang kecil, sepele, tapi bisa membawa pengaruh yang besar.
Kami cukup rutin latihan. Lagu-lagu yang kami jadikan materi sebagian besar adalah lagu Dewa 19, kemudian Peterpan. Waktu itu kira-kira biaya sewa studio untuk satu jam adalah Rp. 8.000. Cukup berat bagi kami berempat untuk patungan, karena harus menyisihkan uang jajan harian demi bisa latihan. Syukurlah, teman-temanku ini orangnya asik-asik, juga kreatif. Aris misalnya, di rumahnya, dia membuat set drum dari ember, panci dan barang-barang dapur lainnya supaya ketika latihan di studio, dia tidak membuang waktu untuk ngulik di studio.
Kami juga sering ikut parade dan festival band. Nggak ngejar juara, hanya untuk melatih kepercayaan diri main di hadapan orang banyak.
Saat Itu Tiba..
Mei/Juni 2006. Kami sudah mendaftar untuk berpartisipasi di pesta perpisahan kakak kelas. Kami sangat antusias untuk “pamer” ke teman-teman kalau kami bisa bermain musik, juga tebar pesona, hahay..
Hingga tahun berikutnya saat pesta perpisahan angkatanku, kami masih aktif dan bisa tampil untuk menghibur teman-teman.
Itulah awal mula saya bermain musik. Sungguh pengalaman yang seru semasa SMP. Banyak kenangan yang tersimpan. Membuka satu pintu baru di kehidupan yang tidak pernah saya sesali. Terima kasih untuk teman-teman yang telah mengiringi perjalanan ini.